Harianbatakpos.com , JAKARTA – Prajogo Pangestu, nama yang mendadak populer dalam pencarian di laman Google, merupakan sosok yang menginspirasi banyak orang. Dari seorang sopir angkot, Prajogo berhasil menjelma menjadi salah satu orang terkaya di Indonesia. Kekayaannya yang mencapai lebih dari 10 miliar dolar AS menempatkannya sebagai orang terkaya di Indonesia versi Forbes pada tahun 2024.
Profil Prajogo Pangestu menggambarkan perjalanan yang luar biasa dari keterbatasan ekonomi hingga meraih kesuksesan yang gemilang. Prajogo lahir pada 13 Mei 1944 di Sambas, Kalimantan Barat. Ayahnya bekerja sebagai pedagang getah karet. Meski berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi, Prajogo tidak menyerah pada situasi tersebut, seperti disadur dari laman Infobanknews.com.
Prajogo, yang pada awalnya hanya menamatkan pendidikan di SMP Nan Hua, sebuah sekolah Mandarin di Singkawang, Kalimantan Barat, memiliki tekad kuat untuk meraih kesuksesan. Ia kemudian mencoba peruntungannya di Jakarta, namun pekerjaan yang diharapkan tak kunjung datang. Prajogo tidak patah semangat dan memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya.
Di Kalimantan, Prajogo bekerja sebagai sopir angkutan umum rute Singkawang-Pontianak. Namun, karier ini tidak bertahan lama. Ia kemudian mencoba peruntungan di bisnis kebutuhan dapur, mulai dari ikan asin hingga bumbu-bumbu. Keberanian dan ketekunan Prajogo dalam menjalankan bisnisnya membawanya pada kesempatan yang mengubah hidupnya.
Pada tahun 1969, Prajogo bertemu dengan pengusaha kayu asal Malaysia, Burhan Uray. Pertemuan ini menjadi titik balik dalam hidup Prajogo Pangestu. Ia kemudian bergabung dengan perusahaan milik Burhan, yaitu PT Djajanti Grup. Dengan etos kerja yang tinggi, Prajogo berhasil menempati posisi General Manager Pabrik Plywood Nusantara, Gresik, Jawa Timur dalam waktu tujuh tahun.
Meski jabatannya hanya bertahan satu tahun, Prajogo tidak menyerah. Ia memutuskan untuk mengundurkan diri dan membeli perusahaan kayu yang tengah mengalami krisis keuangan, yaitu CV Pacific Lumber Coy. Prajogo meminjam sejumlah uang dari bank untuk membeli perusahaan tersebut. Dalam kurun waktu satu tahun, Prajogo berhasil mengembalikan pinjaman tersebut.
Pada tahun 1970-an, perusahaan Prajogo, yang kemudian berganti nama menjadi Barito Pacific Timber (BRPT), berhasil mengakuisisi 70 persen saham perusahaan petrokimia Chandra Asri yang juga terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Prajogo terus melakukan ekspansi bisnis dengan mendirikan PT Chandra Asri Petrochemical Center dan PT Tri Polyta Indonesia Tbk.
Pada tahun 2011, Chandra Asri bergabung dengan Tri Polyta Indonesia dan menjadi produsen petrokimia terintegrasi terbesar di Indonesia. Prestasi ini semakin memperkuat posisi Prajogo Pangestu sebagai salah satu pengusaha sukses di Indonesia. Pada tahun 2023, dua perusahaan Prajogo, yaitu CUAN dan BREN, berhasil melantai di bursa Indonesia.
Meskipun pergerakan saham perusahaan milik Prajogo, terutama BREN, mengalami penurunan, hal ini tidak mengurangi prestasi yang telah diraihnya. Keberhasilan Prajogo Pangestu bukan hanya sekadar kekayaan materi, tetapi juga keberanian, ketekunan, dan visi bisnis yang tajam.
Profil Prajogo Pangestu menginspirasi banyak orang untuk tidak menyerah pada keterbatasan dan terus berjuang meraih kesuksesan. Kisah hidupnya membuktikan bahwa dengan kerja keras, keberanian, dan ketekunan, siapa pun dapat meraih impian dan sukses dalam dunia bisnis. Prajogo Pangestu adalah bukti nyata bahwa kesuksesan tidak mengenal batasan latar belakang dan bahwa mimpi dapat menjadi kenyataan jika kita berani mengambil langkah dan berusaha dengan sungguh-sungguh.
Komentar