Ekbis Headline
Beranda » Berita » Kenapa Garuda Bisa Rugi Sampai Rp5,4 Triliun…?

Kenapa Garuda Bisa Rugi Sampai Rp5,4 Triliun…?

Ilustrasi (foto/ist)

Jakarta, harianbatakpos.com – PT Garuda Indonesia mengalami kerugian bersih mencapai 319,39 juta Dolar Amerika Serikat (AS) atau sekira Rp5,4 triliun (kurs Rp16.910 per dolar AS) sepanjang 2025.

Hal ini tentu menimbulkan banyak pertanyaan publik. Dirut PT Garuda Indonesia Glenny Kairupan pun menjelaskan penyebab kerugian, yang menurutnya disebabkan peningkatan biaya (fixed cost) yang harus digelontorkan perusahaan. Hal itu seiring dengan pemulihan armada Garuda Indonesia hingga fluktuasi nilai tukar.

“Ada pun pada tahun ini perseroan turut mencatatkan rugi bersih sebesar USD 319,39 juta yang turut dipengaruhi oleh fluktuasi kurs, serta peningkatan biaya ‘fixed cost’ seiring intensitas program pemulihan ‘serviceability’ armada yang belum serviceable,” ucapnya dalam keterangannya, dikutip dari tirto.id, Selasa (24/3/2026).

Hindari Macet Arus Balik, Ini Saran Menhub kepada Para Pemudik

Meski demikian, Garuda memperkuat fondasi transformasi bisnis dengan menargetkan tahun 2026 sebagai fase ‘turnaround’ kinerja perusahaan, seiring dengan pemulihan kapasitas produksi secara bertahap, penguatan struktur permodalan.

Lalu, inisiatif langkah perbaikan bisnis dan operasional sejalan dengan berbagai langkah strategis transformasi yang dicanangkan Garuda Indonesia Group.

Sepanjang tahun buku 2025 sendiri, Garuda mencatatkan pendapatan usaha konsolidasi sebesar 3,22 miliar Dolar AS atau turun 5,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini, menurutnya, tak lepas dari fase konsolidasi operasional untuk memperkuat fundamental bisnis.

“Tidak dapat dipungkiri penurunan kinerja Garuda Indonesia Group utamanya dipengaruhi oleh terbatasnya kapasitas produksi pada Semester I 2025 dimana jumlah unserviceable aircraft masih menunggu scheduled maintenance,” tuturnya.

Survei Dunia: Indonesia Negara Paling Bermoral, AS Terendah

Glenny berujar, Garuda Indonesia Group terus memaksimalkan jumlah serviceable aircraft di akhir tahun 2025 menjadi sedikitnya 99 armada dari sebelumnya sekitar 84 armada per Juni 2025.

Total ‘unserviceable’ armada pada akhir tahun 2025 sebanyak 43 pesawat yang saat ini tengah dalam tahapan penyelesaian perawatan armada. Kemudian, jumlah penumpang tercatat 21,2 juta, terkoreksi 10,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Sementara itu, tren tekanan kinerja Garuda Indonesia di tahun buku 2025 juga turut dipengaruhi oleh penurunan passenger yield, tekanan nilai tukar Rupiah, serta tantangan rantai pasok industri aviasi global yang berdampak pada biaya dan proses perawatan.

Glenny mengeklaim, dengan progres pemulihan armada dan implementasi transformasi yang konsisten, Garuda Indonesia optimis kapasitas produksi dan kinerja operasional akan membaik secara bertahap menuju fase pemulihan yang lebih solid.

“Dukungan pendanaan dari Danantara juga mulai memberikan dampak terhadap pemulihan kinerja operasional pada Semester II 2025, yang turut ditunjang oleh penyelesaian lebih dari 100 event maintenance dalam mengoptimalkan penguatan kapasitas produksi Garuda Indonesia Group,” sebutnya.

“Melalui dukungan pendanaan ‘capital injection’ di akhir tahun 2025, Garuda Indonesia menargetkan sedikitnya di akhir tahun 2026 akan mengoperasikan sebanyak 68 ‘serviceable aircraft’. Sedangkan Citilink menargetkan ‘serviceable aircraft’ di akhir 2026 sebanyak 50 pesawat,” tutup Glenny. (REL)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *