Nasional
Beranda » Berita » Agusta Surya Buana: Politisasi Agama Buat Umat Terbelah

Agusta Surya Buana: Politisasi Agama Buat Umat Terbelah

Jakarta-BP: Pemilihan presiden dan wakil presiden tahun 2019 masih lama akan berlangsungnya. Namun berita dan isu politik harian lebih banyak diisi oleh perhelatan pesta demokrasi tersebut.

Isu politik tersebut memanas saat menyentuh soal agama. Banyak peserta merasa terusik dan tersinggung ketika persoalan agama diangkat dalam pilpres.

Karena itu, ketika beberapa orang yang mengaku ulama menggelar ijtima’ atau berkumpul dan menyatakan dukungan kepada pasangan tertentu, banyak pihak yang menyesalkan.

Amnesti Dikira Mainan, Presiden Langsung ‘Tendang’ Immanuel Ebenezer dari Kabinet

Menanggapi persoalan tersebut, aktivis Forum Pemerhati Pemilu Indonesia Agusta Surya Buana menghimbau agar peserta pilpres dan pendukunganya tidak membawa-bawa agama ke dalam praktik kontestasi politik. Menurutnya, menjadikan isu agama atau bahkan isu SARA ke dalam politik pemilu jelas merupakan pelanggaran. Hal demikian juga akan menyebabkan ummat terbelah.

“Lagi pula tidak ada juga relevansinya bawa-bawa isu agama dalam pilpres. Semua calon presiden bergama Islam, demikian juga calon wakil presiden, agamanya Islam semua, bahkan salah seorang cawapres malah seorang ulama, ketua organisasi ulama dan pimpinan tertinggi organisasi Islam di tanah air,” ujarnya kepada media di Kota Serang, Banten, sesaat setelah diskusi terbatas ‘Isu Agama Dalam Pilpres 2019 & Dampaknya Bagi Ummat’, Senin siang, (17/9).

Surya Buana menegaskan, yang ideal terjadi dalam pilres harusnya adalah perdebatan program, adu visi misi. Siapa yang bisa memajukan dan menata negara agar rakyat sejahtera.

Ia juga mengecam anjuran untuk menyisipkan kampanye salah satu paslon ke masjid-masjid dan majelis taklim. Menurutnya itu tindakan memalukan dan mengecewakan.

Telah Dapat Ijazah Sesuai Ketentuan, Rektor UGM Tegaskan Jokowi Adalah Alumni UGM

“Bagaimana mungkin ada anjuran seperti itu padahal jelas sekali dalam aturan, dilarang keras kampanye di tempat ibadah dan tempat belajar. Lembaga agama dan forum keagamaan jangan diseret untuk kepentingan dukung mendukung salah satu paslon. Apalagi jika sampai dibiayai untuk kepentingan kampanye salah satu paslon. Itu konyol,” pungkasnya. (Akurat/JP)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *