Dolok Maringan Panjaitan Pernah Menarik Becak Hingga Bermimpi Jadi Bupati

Dolok Maringan Panjaitan bersama Johan Pangaribuan.

Tobasa-BP : Pria berambut putih itu bermimpi bupati, dirinya pernah menarik becak dan pernah juga bertanam jagung. Dilikuidasi dari perusahaan, dimana usaha tersebut dititi mulai dari nol hingga sukses seperti saat ini.

Demikian mimpi dan nostalgia Dolok Maringan Panjaitan ingin menjadi Parhobas (Bupati) di Kabupaten Toba Samosir.

Keseriusan dan tekad Dolok Maringan Panjaitan untuk mewujudkan keinginannya itu telah dibuktikan. Berkunjung, ramah tamah dengan para tokoh, bersalaman, martarombo 'hello apa kabar' dan masyarakat tampak antusias menyambutnya dengan baik.

Puluhan desa telah disambangi dan dikunjunginya, Setiap harinya ada dua,tiga desa di Toba Samosir. Sangat melelahkan, itu sudah pasti, namun kerena tekad dan tanggungjawab moralnya itu keletihan terasa hilang seketika dengan adanya niat tulus dan baik adalah kuncinya.

Kondisi realita infrastruktur jalan di Tobasa, acap kali membuat geleng-geleng kepala. Terlihat bahu kiri kanan badan jalan rusak, jika musim hujan terlihat seperti kubangan kerbau, terkadang membuat setiap orang yang melewatinya pasti menggerutu.

Dengan hal itu persoalan infrastruktur jalan Kabupaten, jalan Kecamatan dan jalan Desa masih prioritas untuk dibenahi. Dalam hal itu Bupati mendatang diharapkan dapat memperbaiki dan membenahinya dengan keberadaan minimnya dana, itu alasan klasik yang sering dengarkan masyarakat.

Oleh karena itu, Dolok Maringan Panjaitan berkeinginan dan bertanggungjawab untuk menyelesaikannya dengan beberapa formulanya sudah diapahami.

"Anggaran APBD tidak cukup untuk menyelesaikan dan memenuhi pembangunan di daerah kita ini dan untuk itu perlunya Investor didatangkan karena pendekatan dan lobi sangat dibutuhkan," ujar pria yang masih berusia 51 tahun itu.

Tanggungjawab moral ini sebenarnya sangat berat buat ayah tiga anak ini, mengingat kompleksitas permasalahan di Tobasa sangat beragam.

"Ujian berat dan tanggungjawab moral buat saya, dengan adanya dukungan dan dorongan marga Panjaitan se Jabodetabek itu akan saya buktikan menjadi kenyataan, dengan karena itu mari kita bersama-sama saling membantu dan dukung kalianlah saya agar apa yang kita harapkan kedepan dapat terwujut," harapnya.

Dolok M Panjaitan adalah sosok yang bisa cepat akrab dengan semua kalangan, dirinya dapat diajak berseloroh bisa dan diajak serius dan yang perlu diketahui dirinya memiliki prinsipterbuka namun tegas.

Saat krisis moneter tahun 1998, perusahaan tempat dia bekerja dilikuidasi itu awal dari keuangan ekonominya susah.

"Saya pernah bertanam jagung di Daerah Pancur Batu kerja sama dengan teman bermarga Simangusong, pejabat do saonari di Tobasa on," ujar Dolok Panjaitan mengenang.

Sambungnya, dari lima hektar lahan jagung yang ditanami, hanya dua setengah ton lah hasilnya.

"Hancurlah,  gimanalah bukan kami pupuk, rumput na pe sama tingginya  dengan jagung," ujar suami yang mempersunting boru Purba itu sembari tertawa berkelakar menceritakannya.

Sarjana Teknik Sipil ini juga kala krisis moneter, pernah menarik becak, "Gimanalah, nga hancit parngoluan tikki i, terpaksa manarik becak ma au," kenangnya.

Selain infrastruktur jalan, pria yang dilahirkan ibu boru Sitorus ini juga bermimpi untuk memperhatikan budaya batak. Pariwisata di Tobasa akan dikembangkan dengan nilai-nilai kearifan lokal, yakni menonjolkan budaya dan adat batak.

Tobasa harus dipimpin seorang yang bijaksana, tegas dan memiliki manejemen yang terukur, sistematik dan efektif, tipe itu melekat pada Dolok Maringan Panjaitan.

Dia seorang pengusaha yang usahanya diawali dari nol. Hanya kurun waktu 15 tahun, usahanya bangkit dan melejit.

"Begitulah kadang nasib orang, padahal duluannya aku berusaha di Papua sekarang dianya sudah milyoner," sebut Ketua Opera Toba Santos Simanjuntak yang juga anak rantau dari Papua.

Keluhan dan masukan yang disampaikan oleh masyarakat yang dijumpai didengarnya dengan baik, walau terkadang kekecewaan dan pesimis kepada pemerintah sangat terlihat dari raut wajahnya.

"Kami sudah biasa dibohongi pemerintah selama ini, awalnya tutur katanya sangat manis dan meyakinkan, Pos ma rohamu akan seperti ini dan seperti itu kita buat nanti," sebut  warga desa Meranti Timur, bermarga Panjaitan, menirukan ucapan setiap calon Bupati saat berkunjung ke desanya tempo itu.

Ditambahkannya, keberadaan warga masyarakat sepertinya hanya dijadikan alat atau obyek oleh orang pintar di Negeri ini untuk mencapai tujuannya, setelah itu, dilupakan dan tidak pernah lagi datang ke Desa.

Saat proses pilkada dan pilcaleg, janji manis dan visi misi yang menarik nan indah kerap menjadi modal gratis bagi politikus dan calon pimpinan daerah. Masyarakat diajak bermimpi terbuai agar mempercayainya, namun mimpi tersebut berbanding terbalik yang menjadikan kenyatanya nol.

Aneka permasalahan yang komplek di Tobasa ini harus ditangani dengan serius, benar, dan tepat. Kebutuhan yang paling mendasar dan umum seperti infrastruktur jalan raya paling sensitif untuk dipenuhi.

Itu harus prioritas pemerintah daerah yang akan datang. Selain infrastruktur jalan, kebutuhan mendasar petani, seperti Pupuk harus tersedia. Kok bisa Pupuk langka! Mafia pupuk harus dibasmi.

Pariwisata berbasis kearifan lokal harus bisa menjadi ikon Tobasa. Kuliner asli batak itu harus diperkenalkan dan dipromosikan ke Dunia luar.

Dolok Maringan Panjaitan putra asal Desa Hutanamora Kecamatan Silaen anak rantau yang sukses ini bermimpi untuk memimpin di Toba Samosir.

Kapasitas dia menjadi "Parhobas" di Toba Samosir tidak perlu diragukan lagi. Dukungan moril dan materil serta pengalaman memimpin perusahaan yang dari nol hingga besar, sudah bisa modal awal baginya. (ALP/JP)

Penulis: -

Baca Juga