oleh

Edy Pertahankan Jabatan Hingga 2020: PSSI ke Depan Digransi Cemerlang

Medan-BP: Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia(PSSI), Edy Rahmayadi sangat menyesalkan pemberitaan sejumlah masmedia yang selalu mendiskreditkan kinerja PSSI di negeri ini.

Padahal, Pengurus PSSI sudah berbuat semaksimal mungkin. Segala daya upaya untuk memajukan dunia persepakbolaan di Indonesia sudah dilakukan mulai penjaringan pelatih, pembinaan lembaga-lembaga sepak bola, pengkaderan pemain(diklat atau kursus), pembinaan wasit, juri hingga seleksi pemain handal.

“Memang kita akui kondisi persepakbolaan di Indonesia tengah sekarat saat ini, tetapi jangan dituding semata-mata akibat ketidak-mampuan saya memimpin PSSI,” ujar Edy Rahmayadi dihadapan ratusan wartawan di Aula Raja Inal Siregar, kantor Gubsu, Selasa (5/12).

Menurut Edy Rahmayadi, pihaknya sama sekali tidak keberatan jika kondisi PSSI atau keburukan dunia persepakbolaan di Indonesia dipublikasikan tapi hendaknya pemberitaan itu harus beribang, positif dan membangun.

Jika diberitakan keburukan PSSI, hendaknya kebaikan juga diberitakanlah biar berimbang. Ini melulu kejelekan yang diungkap.

“Apa ingga ada lagi yang baik atau positip kinerja PSSI membangun persepakbolaan di Indonesi di mata wartawan selama ini,” ujar Edy Rahmayadi dengan nada bertanya serta penuh kekesalan.

Edy Rahmayadi yang juga Gubernur Sumatera Utara ini merasa selalu disudutkan semua pihak termasuk sejumlah tokoh atau ahli sepak bola di negeri ini.

Disebutkan, dengan banyaknya atau kencangnya serangan, tekanan, teror, cercaan hingga makian tentu mempengaruhi semangat dan gairah kerja pengurus PSSI. Karena apapun yang diperbuat PSSI tidak ada yang benar di mata semua elemen masyarakat.

Bahkan ada segelintir orang minta Edy mundur dari PSSI. Ada yang bilang PSSI paska kepemimpinan Edy Rahmayani tidak becus dan lainnya.

Ironisnya, ujar Edy, malah yang paling getol meminta mundur justeru orang Sumut. Demikian juga wartawannya mayoritas media daerah ini

“Masa saya asli warga Sumut malah orang Sumut yang paling getol menyudutkan bahkan menyuruh dan memaksa saya mundur dari jabatan ketua umum PSSI,” ujar Edy Rahmayadi.

Seharusnya Sumut bangga seorang putra Sumut dipercaya memimpin PSSI. Ini tidak, malah selalu dipersalahkan, dizolimi , dicerca, dibully dan didesak mindur, tegas Edy.

Pertahankan hingga 2020

Perlu saya tegaskan, ujar Edy, walaupun begitu deras desakan, tekanan, teror maupun penzoliman, saya takkan mundur dari PSSI sebelum masa periodenya habis.

“Saya akan tetap pertahan pimpin PSSI hingga habis masa periode 2016-2020. Apapun alasannya, saya takkan mundur,” ujar Edy Rahmayadi dengan tegas.

Bangkitkan Gairah

Menurut Edy, dunia persepakbolaan di Indonesia dipastikan bangkit ke depan. Pengurus PSSI terus kerja keras untuk membangun PSSI. Karena itu, diminta kepada segenap lapisan masyarkat baik tokoh, lembaga pemerinta khususnya wartawan dukunglah PSSI. Jangan sekali-kali mendiskreditkan saja.

“Yakinlah, saya menjamin/menggransi masa depan PSSI ke depan jauh lebih cemerlang di tangan Edy Rahmayadi,” ujarnya.

Lebih lanjut Edy mengungkapkan kondisi persepakbolaan di Indonesia jauh tertinggal dibandingkan dengan negara lain, apalagi Eropah dan lainnya.

Sebak dunia persepakbolaan di Indonesia tidak didukung atau infrastrur mulai dari pemain, wasit, juri, lapangan bolanya maupun stadion khususnya anggaran atau pembiayaan.

Biar anda tau ya, sebulan setelah saya dilantik jadi Ketua Umum PSSI, hal ini sudah pernah saya ungkapkan kepada Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) bersama sejumlah menteri bahwa setelah sebulan menjabat sebagai Ketua PSSI.

“Hal ini sudah pernah saya paparkan di hadapan Presiden bersama 23 Menteri dan anggota DPR RI Komisi X. Nah, Sekarang hal itu juga saya ungkapkan di hadapan wartawan secara transparan,” kata Edy.

Edy memaparkan kondisi persepakbolaan saat ini sangat sekarat. Sebab Indonesia belum memiliki pemain bola yang handal, dan profesional.

“Hanya untuk memenuhi kuantitas saja belum bisa apalagi pemain berprestasi atau berkualitas,” kata Rahmayadi..

Menurut Rahmayadi, berdasarkan data tahun 2016, untuk jumlah pemain, Indonesia sangat minim. Seperti Belanda memiliki 1.200.000 pemain dari 16.700.000 jiwa penduduk. Spanyol memiliki 4.100.000 dari 46.800.000 jiwa. Jerman memiliki 6.300.000 pemain dari 80.700.000 jiwa penduduk. Thailand 1.300.000 pemain dari 64.600.000 jiwa penduduk. Singapura memiliki 190.000 dari 4.500.000 jiwa. Sementara Indonesia hanya memiliki pemain sebanyak 67.000 dari 250.000.000 jiwa.

Sementara kondisi jumlah pelatih yang dimiliki Indonesia. Masih dari data tahun 2016. Spanyol memiliki 22.000 pelatih, Jerman 28.668 pelatih, Thailand memiliki 1.100 pelatih, Malaysia memiliki 1.810 pelatih, Singapura memiliki 170 pelatih dan Indonesia memiliki 197 pelatih.

Sementara kepemilikan wasit juga Indonesia masih minim. Jika kita perhatikan negara internasional seperti Spanyol memiliki 47 wasit, Jerman 43, Belanda 41, Thailand 19, Malaysia 26, Singapura 15, Vietnam 19 dan Indonesia hanya memiliki 5 orang wasit.

“Itu pun saat ini yang aktif tinggal 2 wasit,” ungkapnya.

Demikian juga menyangkut sarana dan prasarana seperti kepemilikan stadion, Edy mengungkapkan jumlah sarana yang dimiliki Indonesia juga sangat minim. Menurutnya, Spanyol memiliki 109 stadion berstandar FIFA, Belanda 45 stadion standar FIFA dan 1.450 lapangan artifisial. Jerman 42 stadion standar FIFA dan 1.080 lapangan artifisial, Singapura memiliki 21 stadion standar FIFA dan Indonesia hanya memiliki 2 stadion standar FIFA dan 23 lapangan yang layak pakai.

“Stadion Teladan yang kita bangga-banggakan itu, tidak masuk dalam lapangan yang layak pakai itu,” kata Edy.

Untuk itu, ujar Edy mengharapkan, media dapat memberikan dukungan kepadanya untuk bersama memajukan PSSI. “Makanya jangan ganggu-ganggu PSSI hanya gara-gara Edy tak seperahu. Memang perlu perahu PSSI ini ? Janganlah kalian ikut-ikutan, tapi doakanlah kami ini,” ajak Edy yang juga berharap terutama kepada media di Sumut untuk memberikan dukungan kepada dirinya.

“Kalau gak kalian yang bela saya, terus siapa yang bela saya,” pintanya.

Sementara itu, Sekjen PSSI Ratu Tisha Destria menambahkan, bahwa dalam kondisi serba terbatas tersebut, PSSI berhasil mengukir beberapa prestasi. Bahkan, prestasi PSSI yang diraih pada tahun 2018, beberapa di antaranya ada yang baru pertama kali diraih sejak pertama kali PSSI berdiri.

“Tim putri U-16 debut di AFC sejak pertama kali PSSI berdiri, tim putri senior lolos putaran 1 olimpiade, futsal putra memperoleh peringkat 3 AFF Championship, Futsal Putri 8 besar Asia, tim putra putri U-16 berada di peringkat 8 besar Asia, Putra U-23 memperoleh 16 besar di Asian Games, tim sepakbola pantai yang telah diaktifkan kembali sejak 2010,” ungkapnya.

Dalam kesempatan itu turut hadir Kadispora Sumut Baharuddin Siagian, Kepala Biro Humas dan Keprotokolan Setdaprovsu Ilyas Sitorus, Ketua PWI Sumut Hermansyah, Ketua KONI Sumut Jhon Ismadi Lubis. Serta sejumlah pimpinan media dan wartawan. (BP/RD)

Komentar

News Feed