Oleh: Yos A Tarigan, SH, MH, M.Ikom
Ada sebuah getaran yang berbeda saat melangkah ke dalam ruang gelap bioskop di momen Jumat Agung tahun ini. Bukan sekadar mencari hiburan, namun ada kerinduan akan narasi yang mampu menyentuh relung spiritual sekaligus memberikan teladan visual bagi generasi muda.
Kerinduan itu terjawab lewat “DAVID”, sebuah mahakarya animasi musikal dari Angel Studios dan Slingshot Productions yang resmi menyapa layar lebar Indonesia.
Film garapan sutradara Brent Dawes dan Phil Cunningham ini bukan sekadar pengulangan narasi Alkitab yang sudah kita hafal di luar kepala. “DAVID” mengemas ulang epos legendaris ini dengan pendekatan yang sangat manusiawi.
Kita diajak mengenal Daud (disuarakan oleh Brandon Engman untuk versi muda dan penyanyi Phil Wickham untuk versi dewasa) bukan sebagai pahlawan instan, melainkan sebagai seorang gembala periang yang memikat hati lewat melodi dan ketulusannya.
Kualitas yang Menembus Batas
Secara teknis, “DAVID” membuktikan bahwa produksi independen berbasis komunitas (crowdfunding) mampu menyamai kemegahan studio raksasa.
Detail animasinya memanjakan mata, namun kekuatan utamanya justru terletak pada departemen musik. Keterlibatan nama besar seperti Lauren Daigle membuat film ini terasa seperti doa yang dinyanyikan. Setiap nada bukan hanya pengiring adegan, melainkan ekspresi iman Daud yang tak tergoyahkan.
Puncaknya, tentu saja pertarungan ikonik melawan raksasa Goliath. Namun, film ini cerdik. Ia tidak hanya menjual aksi. Ia menunjukkan bahwa kemenangan Daud tidak dimulai di lembah pertempuran, melainkan di padang rumput saat ia belajar percaya pada Tuhan sambil menjaga domba-dombanya.
Urgensi Pendampingan Orang Tua
Sebagai praktisi hukum dan komunikasi, saya melihat film ini sebagai instrumen edukasi yang sangat efektif.
Mengapa orang tua sangat perlu mengajak anak-anak menonton film ini bersama-sama? Pertama, literasi karakter. Di era digital di mana “pahlawan” sering kali diukur dari jumlah followers atau kekuatan fisik, sosok Daud mengingatkan anak-anak kita bahwa keberanian sejati lahir dari kerendahan hati dan keyakinan.
Kedua, ruang dialog. Menonton bersama menciptakan momen bagi orang tua untuk menjelaskan nilai-nilai integritas, ketangguhan (resilience), dan bagaimana menghadapi “Goliath-Goliath” modern seperti perundungan (bullying) atau rasa tidak percaya diri.
Ketiga, film ini menawarkan pengalaman spiritual kolektif. Menonton “DAVID” di tengah suasana Jumat Agung menjadi refleksi mendalam tentang ketaatan. Ini adalah momen terbaik bagi orang tua untuk menanamkan benih iman melalui media yang sangat disukai anak-anak: animasi.
“DAVID” adalah bukti bahwa cerita kuno bisa tetap relevan, segar, dan menggetarkan. Ia mengajak kita—baik dewasa maupun anak-anak—untuk percaya bahwa tidak ada batu yang terlalu kecil dan tidak ada raksasa yang terlalu besar jika kita berjalan bersama Sang Pencipta.
Jangan biarkan anak-anak Anda menontonnya sendirian. Duduklah di samping mereka, genggam tangannya saat Goliath muncul, dan bernyanyilah bersama saat Daud memetik harpanya. Karena melalui film ini, kita sedang membangun fondasi karakter yang mungkin akan menjadi sejarah bagi masa depan mereka.


Komentar