Medan, harianbatakpos.com – Hadassa of Indonesia Monique Rijkers menyebut, bahwa Orang Batak itu serupa dengan Bangsa Israel, khususnya dalam hal mental merantau.
Hal ini ia sampaikan saat menjadi salah seorang pembicara dalam ‘Seminar Sehari Fakta Israel: Pemulihan Israel di Akhir Zaman’, yang berlangsung, Selasa (31/3/2026), di Gereja Laskar Kristus Indonesia (GLKRI) Pusat Jalan Ujung Serdang, Tanjung Morawa, Deli Serdang, Sumatera Utara.
“Orang Jahudi sama dengan Orang Batak. Ditaruh di mana saja bisa jadi. Sama-sama perantau (lintas negara) dan sama-sama berhasil,” kata Monique, di hadapan seratusan orang yang memenuhi lokasi kegiatan.
Terberkati
Hal lain yang ia sampaikan adalah fakta, bahwa Israel adalah bangsa yang terberkati. “Di (negara) mana saja mereka berada, mereka bisa dapat Nobel. Karena pendidikan mereka adalah lima Kitab Taurat. Hari Sabbat mereka isi dengan membaca,” ungkapnya.
Bahkan, kata Monique, Tuhan menyebut Israel sebagai biji mataNya. “Jadi, kita tidak perlu ikut seminar yang mengajak Orang Kristen untuk membenci Israel. Kita ikut dan percaya Alkitab saja,” tegasnya.
“Tidak perlu membuat seminar, karena semua jawaban ada di Alkitab. Semua janji-janji Tuhan kepada Bangsa Israel ada tertulis di Alkitab. Baca Alkitab, maka Tuhan akan memberikan apa yang tidak pernah kita pikirkan,” masih kata Monique.
Monique melanjutkan, bahwa saat ini, Israel modern sudah ada dan itu merupakan perwujudan janji Tuhan terkait pembaharuan bangsa pilihan tersebut.
“Israel adalah tanah terberkati. Meski berupa padang gurun, namun subur dan hijau oleh tanaman yang segar. Jumlah penduduknya tidak besar tapi bisa menjadi bisa menjadi negara besar. Semua itu karena Israel punya Allah yang besar,” urainya.
Monique mengungkapkan, semua teknologi selalu bersentuhan dengan Israel. “Polisi Indonesia pakai teknologi Israel. KPK pakai teknologi sadap dari Israel. Ethiopia yang kering dan kelaparan diubah oleh Israel menjadi surga pertanian. Bahkan Indonesia impor sayur dari Ethiopia,” sebutnya.
Non-Alkitabiah
Monique malah mengungkapkan keheranannya, karena kalau bicara soal Israel, Dewan Gereja Dunia seolah-olah tak malah mengerti Alkitab.
“Israel sudah keluar dari Gaza tahun 2005. Tapi pada tahun 2025 Dewan Gereja Dunia desak penjahan Israel di Gaza dihentikan. Kok bisa? Kenapa tidak mendesak agar terorisme yang sedang diperangi Israel dihentikan?” tanyanya.
Ia juga menyinggung peran PGI soal situasi yang Israel hadapi. “Pernah gak PGI meminta pembebasan sandera yang disandera Hamas?” tanyanya lagi.
Sebelumnya, Bishop Dikson Panjaitan MTh, yang merupakan pimpinan GLKRI, membuka kegiatan dengan ibadah.
Pembicara lainnya adalah Pdt Dr Yahya Iskandar MTh, yang mengedepankan, perlunya menerima perbedaan. “Kalau semua bisa menerima perbedaan, maka mestinya semua akan saling menghargai dan hidup dalam damai,” katanya.
Secara keseluruhah, acara seminar sehari itu berlangsung lancar dan aman, berkat penjagaan aparat kepolisian, baik dari Polres Deli Serdang maupun Polda Sumut. (RED)


Komentar