Berita
Beranda » Berita » Pakar Geologi Ungkap Alasan Longsor Berulang di Jawa Barat

Pakar Geologi Ungkap Alasan Longsor Berulang di Jawa Barat

Pakar Geologi Ungkap Alasan Longsor Berulang di Jawa Barat
Pakar Geologi Ungkap Alasan Longsor Berulang di Jawa Barat

Bencana tanah longsor yang terus berulang di sejumlah wilayah Jawa Barat kembali menjadi sorotan. Dalam beberapa tahun terakhir, provinsi dengan kontur wilayah pegunungan ini kerap dilanda longsor, terutama saat musim hujan. Pakar geologi menilai, fenomena tersebut bukan sekadar faktor cuaca, melainkan akumulasi dari kondisi geologis alam dan aktivitas manusia yang kurang terkendali.

Dilansir dari laman https://suaraberitajabar.com/, Pakar Geologi dari salah satu perguruan tinggi di Jawa Barat, menjelaskan bahwa secara geologis, sebagian besar wilayah Jawa Barat memang memiliki tingkat kerawanan longsor yang tinggi. Struktur tanah yang labil, kemiringan lereng yang curam, serta jenis batuan yang mudah lapuk menjadi faktor utama penyebab longsor terjadi secara berulang.

“Jawa Barat didominasi oleh batuan vulkanik muda yang relatif belum stabil. Ketika curah hujan tinggi, air dengan mudah meresap ke dalam tanah dan melemahkan ikatan antarpartikel tanah,” ujar pakar tersebut saat diwawancarai, baru-baru ini.

Puluhan Warga Diduga jadi Korban Proyek Pembangunan Perlintasan Kereta Api di Labuhanbatu

Kondisi Geologis dan Curah Hujan Tinggi

Menurutnya, curah hujan tinggi yang terjadi hampir setiap tahun menjadi pemicu utama longsor di wilayah Jawa Barat. Air hujan yang masuk ke dalam lapisan tanah akan meningkatkan tekanan air pori, sehingga kekuatan tanah untuk menahan beban di atasnya menjadi berkurang. Akibatnya, tanah mudah bergerak dan menyebabkan longsor.

Selain itu, Jawa Barat berada di wilayah cincin api (ring of fire) yang memiliki aktivitas tektonik dan vulkanik cukup tinggi. Proses geologi ini membentuk lereng-lereng curam dengan kestabilan yang rentan terhadap gangguan, baik alami maupun buatan.

“Getaran kecil akibat aktivitas tektonik atau bahkan lalu lintas berat di sekitar lereng bisa mempercepat terjadinya longsor jika kondisi tanah sudah jenuh air,” jelasnya.

Alih Fungsi Lahan Jadi Faktor Penentu

Tak hanya faktor alam, pakar geologi juga menyoroti peran besar aktivitas manusia dalam memperparah risiko longsor. Alih fungsi lahan dari kawasan hutan menjadi permukiman, perkebunan, maupun infrastruktur dinilai sebagai penyebab utama meningkatnya kejadian longsor di Jawa Barat.

Berharap Dihukum Mati, Noel: KPK Melakukan Operasi Tipu-tipu

Vegetasi alami seperti hutan memiliki peran penting dalam menjaga kestabilan lereng. Akar pohon membantu mengikat tanah, sementara tajuk pohon mengurangi intensitas air hujan yang langsung mengenai permukaan tanah.

“Ketika hutan ditebang dan diganti dengan bangunan atau tanaman semusim, fungsi penguat lereng itu hilang. Tanah menjadi lebih mudah bergerak, terutama di daerah perbukitan,” katanya.

Minimnya Tata Ruang Berbasis Mitigasi

Masalah lain yang disoroti adalah lemahnya penerapan tata ruang berbasis mitigasi bencana. Banyak kawasan rawan longsor yang masih dijadikan lokasi permukiman tanpa kajian geologi yang memadai. Kondisi ini membuat risiko korban jiwa dan kerugian material semakin besar saat longsor terjadi.

Pakar tersebut menegaskan bahwa peta rawan bencana sebenarnya sudah tersedia, namun implementasinya di lapangan masih belum maksimal. Pembangunan sering kali lebih mengedepankan aspek ekonomi dibandingkan keselamatan jangka panjang.

Langkah Pencegahan yang Perlu Dilakukan

Untuk mengurangi kejadian longsor berulang, pakar geologi merekomendasikan beberapa langkah penting, antara lain:

  • Penegakan aturan tata ruang yang ketat di kawasan rawan longsor
  • Rehabilitasi hutan dan penanaman vegetasi berakar kuat di lereng
  • Edukasi masyarakat tentang tanda-tanda awal longsor
  • Pembangunan sistem drainase lereng yang baik untuk mengurangi kejenuhan tanah

“Mitigasi harus dilakukan secara terpadu, melibatkan pemerintah, akademisi, dan masyarakat. Tanpa itu, longsor akan terus berulang setiap tahun,” tegasnya.

Kesadaran Bersama Jadi Kunci

Ia menambahkan, kesadaran masyarakat menjadi kunci utama dalam mengurangi risiko bencana longsor. Warga di daerah rawan diimbau lebih waspada, terutama saat hujan deras berlangsung dalam waktu lama.

Dengan kombinasi pemahaman geologi yang baik, tata ruang yang tepat, serta kepedulian terhadap lingkungan, risiko longsor di Jawa Barat diharapkan dapat ditekan. Jika tidak, bencana serupa diprediksi akan terus menghantui wilayah tersebut di masa mendatang.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *