Jakarta, harianbatakpos.com – Seorang pejabat Iran mengatakan bahwa sekitar 2.000 orang telah tewas dalam aksi demo besar-besaran yang melanda Iran beberapa hari terakhir.
Dilansir Al Arabiya dan Reuters, Selasa (13/1/2026), pejabat Iran yang tak disebutkan namanya itu menyalahkan para ‘teroris’ atas kematian warga sipil dan personel keamanan tersebut.
Sementara itu, Kepala Hak Asasi Manusia PBB mengatakan, Selasa (13/1/2026), bahwa ia ‘terkejut’ dengan meningkatnya kekerasan oleh pasukan keamanan Iran terhadap para demonstran.
“Siklus kekerasan mengerikan ini tidak dapat berlanjut. Rakyat Iran dan tuntutan mereka untuk keadilan, kesetaraan, dan kebenaran harus didengar,” kata Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia Volker Turk dalam sebuah pernyataan yang dibacakan oleh juru bicara kantor hak asasi manusia PBB, Jeremy Laurence.
Iran diguncang gelombang protes sejak bulan lalu, yang dimulai pada 28 Desember di area Grand Bazaar Teheran ketika para demonstran, yang sebagian besar pedagang dan pemilik toko, memprotes soal memburuknya kondisi ekonomi, dengan mata uang Rial Iran mengalami depresiasi tajam.
Aksi protes itu meluas ke beberapa kota lainnya dan berkembang menjadi gerakan lebih luas yang menantang pemerintahan teokratis yang berkuasa di Iran sejak revolusi tahun 1979 silam.
Beberapa hari terakhir, aksi demo di Iran marak diwarnai kerusuhan dan kekerasan. Kelompok HAM yang berbasis di Amerika Serikat (AS), Human Rights Activists News Agency (HRANA), seperti dilansir Associated Press, Selasa (13/1/2026), menyebutkan sedikitnya 646 orang tewas akibat penindakan keras otoritas Iran terhadap demonstran.
Jumlah korban tewas itu mencakup 512 demonstran dan 134 anggota pasukan keamanan Iran. Lebih dari 1.000 orang lainnya mengalami luka-luka.
HRANA juga melaporkan bahwa lebih dari 10.700 orang telah ditahan selama unjuk rasa berlangsung dua pekan terakhir. Penahanan disebut berlangsung di sebanyak 585 lokasi di berbagai wilayah Iran, termasuk 186 kota di semua 31 provinsi.
Data yang dilaporkan HRANA terbukti akurat dalam kerusuhan sebelumnya yang melanda Iran beberapa tahun terakhir. Data terbaru HRANA itu dilaporkan pada Selasa (13/1) pagi, dengan mendasarkan pelaporan dari para pendukungnya di Iran untuk memeriksa silang informasi yang diberikan. (RED)


Komentar