oleh

Setelah Tujuh Tahun, Perundingan Indonesia-EFTA CEPA Selesai

Jakarta-BP: Penyelesaian perundingan Perjanjian Kerja Sama Ekonomi Komprehensif Indonesia-European Free Trade Association/EFTA (IE-CEPA) akhirnya diselesaikan pada Jumat (23/11) di Jenewa, Swiss. Penyelesaian ini ditandai dengan penandatanganan Pernyataan Bersama (Joint Statement) Menteri Perdagangan RI Enggartiasto Lukita di kantor Sekretariat EFTA.

Penandatanganan tersebut dilakukan Enggar bersama empat menteri Negara EFTA, yang terdiri dari Swiss, Liechtenstein, Islandia, dan Norwegia.

“Hari ini kelima negara sangat berbahagia dan bersyukur perundingan IE-CEPA yang telah memakan waktu tujuh tahun ini akhirnya diselesaikan. Penyelesaian ini merupakan tonggak sejarah bagi hubungan RI dengan keempat negara EFTA,” kata Enggar.

Para pimpinan setingkat menteri negara EFTA yang juga melakukan penandatangan yaitu Menteri Perdagangan dan Industri Norwegia Torbjørn Røe Isaksen; Menteri Hubungan Luar Negeri, Hukum, dan Budaya Liechtenstein Aurelia Frick; Menteri Hubungan Luar Negeri dan Perdagangan Eksternal Islandia Guðlaugur Þór Þórðarson; Kepala Departemen Hubungan Ekonomi Swiss Johann N. Schneider-Ammann; serta dihadiri pula Sekretaris Jenderal EFTA Henri Gétaz.

Dengan Perjanjian Kerja Sama IE-CEPA, maka akses pasar barang antara Indonesia dan EFTA akan semakin luas, termasuk jasa dan investasi serta kerja sama ekonomi dan pengembangan kapasitas. Pada perdagangan barang, Indonesia akan mendapatkan peningkatan akses pasar ke EFTA, antara lain produk-produk perikanan, industri (tekstil, furnitur, sepeda, elektronik, dan ban mobil), serta pertanian (termasuk kopi dan kelapa sawit).

Sedangkan pada perdagangan jasa, akses pasar pekerja Indonesia ke EFTA akan lebih terbuka. Contoh sektor jasa yang akan mendapat keuntungan adalah pendidikan, jasa profesi telekomunikasi, keuangan, dan transportasi.

Enggar juga mengharapkan perjanjian ini bisa menciptakan landasan untuk mengejar ketertinggalan Indonesia dari negara ASEAN lainnya, khususnya Filipina dan Singapura, yang telah menyelesaikan perjanjian perdagangan dengan EFTA.

Gelar Forum Bisnis IE-CEPA

Melanjutkan penandatanganan Joint Statement IE-CEPA, Enggar juga menggelar diskusi bersama para stakeholders di Jenewa, Swiss, untuk memulai sosialisasi pemanfaatan IE-CEPA lewat forum bisnis bertemakan “Optimizing the Benefits of Indonesia-EFTA CEPA Agreement”.

Mendag Enggar berharap forum-forum serupa akan gencar dilakukan guna memaksimalkan peningkatan hubungan dagang antara Indonesia dan EFTA. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan, EFTA merupakan negara tujuan ekspor nonmigas ke-23 dan negara asal impor nonmigas ke-25 terbesar bagi Indonesia. Pada 2017, perdagangan Indonesia-EFTA mencapai USD 2,4 miliar. Sementara, nilai ekspor Indonesia ke EFTA sebesar USD 1,31 miliar dan impor Indonesia dari EFTA sebesar USD 1,09 miliar. Dengan demikian Indonesia masih mengalami surplus perdagangan dengan EFTA sebesar USD 212 juta.

Ekspor utama Indonesia ke EFTA antara lain perhiasan, perangkat optik, emas, perangkat telepon, dan minyak esensial. Sementara impor utama Indonesia dari EFTA adalah emas, mesin turbo-jet, obat- obatan, pupuk, dan campuran bahan baku industri. Di sektor investasi, nilai investasi negara-negara anggota EFTA di Indonesia pada 2017 mencapai USD 621 juta.

 

(Kumparan) BP/JP

Komentar

News Feed