Ustadz Martono Kritik Anies Baswedan Soal Banjir : Kurangnya Pengetahuan dan Pengalaman

Kolase foto Ustadz Martono dan Anies Baswedan.

Medan-BP: Banjir yang sering terjadi dan menjadi langganan setiap tahunnya diwilayah jabotabek sudah sering terjadi, tetapi banjir di awal januari 2020 ini adalah banjir terbesar dan terparah dari banjir-banjir sebelumnya, karena sempat menelan korban jiwa 43 orang, hal ini terjadi karena kurangnya pengetahuan dan pengalaman, bahkan terkesan tidak seriusnya dari orang nomor satu di DKI Anis Baswedan dalam mengatasi persoalan banjir di Jakarta.

Hal tersebut disampaikan Penasehat Batak Bersatu, Ustadz Martono melalui sambungan selulernya, Sabtu (4/1/2020).

Ustadz yang dikenal masyarakat Sumatera Utara anergik dan gigih dalam merawat kebhinnekaan dan wawasan kebangsaan ini mengatakan, beberapa pernyataan Anis Baswedan yang kontroversi seolah-olah tidak merasa bersalah dan mencuci tangan bahkan menyalahkan fihak fihak lain atas persoalan banjir tersebut, sehingga pernyataan Anis Baswedan tersebut menjadi bahan tertawaan, cibiran, sindiran, cemoohan, bahkan kekesalan oleh warga nitizen, karena ucapan-ucapan Anis tidak kolutif, bahkan banyak menyinggung perasaan para korban banjir.

Katanya, Jakarta adalah ibu kota negara, sampul depannya Indonesia yang dapat  memberikan citra di luar negeri. Jakarta adalah pusat pemerintahan, pusat perdagangan dan pusat  perekonomian.

"Bila Jakarta lumpuh akibat banjir yang berlarut larut, Jakarta tentu akan menambah cost perekonomian, hal ini tentu akan berimbas kepada daerah daerah lain di luar jakarta," jelasnya.

Ustadz Martono berharap kepada Anis Baswedan agar dalam mengelola tata kelola Jakarta jangan sungkan-sungkan untuk meneruskan bahkan menyempurnakan program program yang telah berjalan yang terbukti efektif dan dapat meminimalisir korban dalam mengatasi persoalan langganan banjir di Jakarta dari gubernur-gubernur terdahulu.

"Jangan ada sisa-sisa sentimen politik dalam pilkada terdahulu, sehingga mengenyampingkan bahkan membongkar dan membuang program program yang sudah ada dalam mengatasi persoalan persoalan banjir di Jakarta, seperti mempercepat normalisasi sungai sungai pada masa Gubernur Jokowi," pungkasnya.

Sambungnya lagi, menyempurnakan pasukan orange yang selalu siaga dalam membersihkan sungai sungai dari sampah sampah. mengaktifkan pompa-pompa raksasa untuk mengurangi debet air  pada masa Gubernur Ahok dan tidak mengurangi angaran untuk mengatasi persoalan banjir, menempatkan orang orang yang profesional dalam mengatasi persoalan banjir.

Ustadz Martono juga berharap kepada warga Jakarta khususnya daerah-daerah lainnya agar kedepannya lebih cerdas dan berlogika dalam memilih Gubernur, agar  tidak terprovokasi dengan isu-isu sara.

"Pilihlah Gubernur yang benar-benar profesional dalam melayani rakyatnya sehingga dapat mensejahterakan rakyat yang dipimpinya," harap Ustadz Martono. (red)

Penulis: -

Baca Juga