oleh

Eksekusi Matinya 2 Kali Ditunda, Napi ini Marah Minta Dipercepat

Las Vegas-BP: Kebahagiaan terbesar bagi seorang narapidana mungkin adalah kebebasan.

Tapi bagi narapidana yang menjalani hukuman mati dan tak mungkin dapat kebebasan, mungkin kebebasan itu baru bisa mereka dapatkan setelah eksekusi dilaksanakan.

Seorang narapidana hukuman mati di Nevada terlihat sangat kesal setelah eksekusi hukuman matinya ditunda dua kali.

“Negara harus segera menyelesaikannya. Lakukan saja secara efektif dan berhenti memperjuangkan hal itu,” kata Scott Raymond Dozier, si narapidana pada Associated Press.

Menurut Scott, penundaan hukuman mati hanya membuat dia dan keluarganya kesal serta malah merasa bahwa hukuman ini tak berujung.

“Harapan saya jelas. Mereka harus berhenti menghukum saya dan keluarga saya karena ketidakmampuan mereka melakukan eksekusi,” lanjutanya dalam panggilan telepon dari Penjara Negara Ely.

Sebelumnya, hakim di Las Vegas memutuskan untuk menunda eksekusi hukuman mati pada jam terakhir.

Hukum di Nevada melakukan hukuman mati dengan cara memberi suntikan mematikan.

Tapi perusahaan farmasi nasional telah menolak obat-obatan yang mereka gunakan dalam eksekusi.

Ini menyebabkan tidak ada cukup cairan mematikan yang bisa digunakan untuk eksekusi narapidana hukuman mati.

Nevada tidak bisa melakukan eksekusi mati bagi narapidana sejak 2006 dan itu telah menjadi masalah tahunan bagi negara-negara dengan sistem hukuman mati melalui suntikan.

Pejabat penjara ingin menjadwal ulang eksekusi Scott Dozier untuk pertengahan November tahun ini dan meminta Mahkamah Agung Nevada untuk segera membuat keputusan.

“Saya juga tidak benar-benar ingin mati. Tapi lebih baik saya mati daripada menghabiskan seumur hidup di dalam penjara,” keluh Scott.

Dia bahkan menyebut bahwa hidupnya adalah pusaran hukum karena tak kunjung dieksekusi.

Menurut Scott, dia ingin segera melakukan suntikan mematikan itu meski dia tahu mungkin akan merasa kesakitan.

Narapidana ini tidak menentang hukuman yang dijatuhkan kepadanya.

Namun dia membantah telah melakukan pembunuhan terkait narkoba tahun 2002 di Phoenix dan Las Vegas yang membuatnya divonis hukuman mati pada 2007 silam.

“Saya tidak bersalah. Tapi saya bukan pria di dalam penjara yang akan mengeluh ketidakadilan. Semua sudah berakhir dan saya hanya ingin segera menyelesaikannya,” kata Scott.

Tapi perusahaan farmasi nasional telah menolak obat-obatan yang mereka gunakan dalam eksekusi.

Ini menyebabkan tidak ada cukup cairan mematikan yang bisa digunakan untuk eksekusi narapidana hukuman mati.

Nevada tidak bisa melakukan eksekusi mati bagi narapidana sejak 2006 dan itu telah menjadi masalah tahunan bagi negara-negara dengan sistem hukuman mati melalui suntikan.

Pejabat penjara ingin menjadwal ulang eksekusi Scott Dozier untuk pertengahan November tahun ini dan meminta Mahkamah Agung Nevada untuk segera membuat keputusan.

“Saya juga tidak benar-benar ingin mati. Tapi lebih baik saya mati daripada menghabiskan seumur hidup di dalam penjara,” keluh Scott.

Dia bahkan menyebut bahwa hidupnya adalah pusaran hukum karena tak kunjung dieksekusi.

Menurut Scott, dia ingin segera melakukan suntikan mematikan itu meski dia tahu mungkin akan merasa kesakitan.

Narapidana ini tidak menentang hukuman yang dijatuhkan kepadanya.

Namun dia membantah telah melakukan pembunuhan terkait narkoba tahun 2002 di Phoenix dan Las Vegas yang membuatnya divonis hukuman mati pada 2007 silam.

“Saya tidak bersalah. Tapi saya bukan pria di dalam penjara yang akan mengeluh ketidakadilan. Semua sudah berakhir dan saya hanya ingin segera menyelesaikannya,” kata Scott.

Sumber: Intisari (ES)

Komentar

News Feed