Era Baru Perang Modern, Ketika Membunuh dengan Drone Sudah Menjadi Hal Biasa

MQ-9 Reaper Drone. military.com

Harianbatakpos.com: Bayangkan sebuah game pesawat jet tempur di aplikasi ponsel pintar atau konsol Play Station. Pemain bisa menghabisi target atau menghancurkan musuh lewat tampilan di layar monitor atau ponsel. Sekarang bayangkan fotografer yang menjadi pilot drone bisa mengendalikan pesawat nirawak mereka dilengkapi dengan persenjataan yang bisa melepaskan tembakan atau bahkan rudal.

Kelompok Drone Wars dalam laporan mereka bertajuk In The Frame, menyimpulkan, pembunuhan target dengan serangan drone seperti yang baru terjadi pada Panglima Garda Revolusi Iran Qassim Sulaimani kini menjadi sudah sangat biasa lantaran propaganda pemerintah, kerahasiaan informasi, dan laporan media yang tidak kritis.

Menurut laporan Drone Wars, Inggris dan Amerika membuat pembunuhan target seperti dalam konflik dengan kelompok militan ISIS menjadi sebuah narasi yang mudah dilakukan. Sejumlah pentolan ISIS dikabarkan tewas akibat serangan drone dan sebuah daftar yang dibuat Inggris berisi nama orang-orang yang akan dibunuh dengan drone muncul ke publik.

Chris Cole, direktur Drone Wars, mengatakan serangan drone yang menewaskan Sulaimani awal bulan ini semakin menegaskan peran pesawat nirawak dalam konflik di era perang modern.

"Tentu tidak perlu diperdebatkan lagi bahwa drone membuat pembunuhan target semakin terasa biasa dan itu merusak norma hukum internasional dan membuat dunia menjadi lebih berbahaya," kata Cole, seperti dilansir laman the Guardian, Minggu (19/1).

Penelitian oleh Drone Wars yang dilakukan sebelum Sulaimani dibunuh, menelisik sejumlah serangan drone yang dilancarkan antara 2015 dan 2018, termasuk menyasar warga Inggris Riyaad Khan oleh militer Inggris pada September 2015 dan Muhammad Emwazi di tahun yang sama oleh militer AS dan dua tahun kemudian kepada Sally Jones.

"Hal yang benar"

Laporan itu menyebutkan, Perdana Menteri Inggris kala itu David Cameron dan sejumlah menteri di kabinetnya menjadikan serangan drone sebagai tindakan pembenaran untuk menghabisi target mereka yaitu anggota ISIS berkebangsaan Inggris. Mereka melakukan itu dengan memanfaatkan kerahasiaan militer untuk menghindari perdebatan publik.

Penulis laporan In The Frame, Joanna Frew, mengatakan pada peristiwa pembunuhan Khan ada pemberitaan cukup besar di media tapi kemudian semakin sedikit pada peristiwa tewasnya Emwazi dan Jones meski media menyebut Sally Jones sebagai si Janda Putih.

Pembunuhan Nawid Hussain oleh drone AS dengan panduan militer Inggris baru diungkap ke publik pada 2018, setahun setelah peristiwa itu terjadi.

PM Inggris saat itu David Cameron menyebut pembunuhan Emwazi adalah "hal yang benar".

Bagaimana dengan Hukum Internasional?

Hukum internasional tentang membunuh target yang sudah diincar cukup ruwet tapi secara teori pembunuhan itu dibolehkan dengan syarat tindakan membela diri oleh suatu negara ketika ancamannya memang nyata, artinya ancaman sudah akan terjadi. Namun doktrin soal "sudah akan terjadi" pengertiannya semakin bias belakangan ini.

Dalam kasus Sulaimani, AS mengatakan mereka punya informasi intelijen yang menyebut dia tengah merencanakan serangan teror terhadap warga AS di Timur Tengah, tapi hingga kini AS tidak pernah mengumumkan ke publik soal informasi itu.

Presiden Donald Trump mengatakan "tidak terlalu penting" apa alasan untuk membunuh Sulaimani karena Panglima Garda Revolusi Iran itu adalah "teroris" dan punya "masa lalu yang jahat". (mdk)

Penulis: -

Baca Juga