Muazzul SH, MH Wakil Rektor III UMA Dinilai Arogan

Universitas Medan Area. Foto/istimewa

Medan-BP: Mahasiswa Universitas Medan Area menilai Wakil Rektor III UMA Muazzul SH, MH telah bersikap arogan. Arogansi Wakil Rektor III Universitas Medan Area Muazzul, SH, MH merupakan preseden buruk bagi kelangsungan organisasi kemahasiswaan di lembaga yang dikenal dengan the garden of knowledge itu.

Pola kepemimpinan Wakil Rektor yang cenderung agresif akan menimbulkan iklim yang tidak sehat dalam keberlangsungan civitas akademik di kampus bestari itu. tindakan sepihak wakil rektor III dengan merubuhkan dan menghancurkan sekretariat GASI-UMA, senin (10/2) tampa melakukan musyawarah mufakat bersama GASI-UMA menunjukkan sikap dan kepemimpinan Wakil rektor III  yang cenderung emosional, hal tersebut mencerminkan sikap abuse of power.

Menurut keterangan Pengurus GASI-UMA, Ricky Sukma dan Rahman Tumangger, kejadian tersebut bermula saat Surat Wakil Rektor II Universitas Medan Area terkait dengan pemindahan sekretariat GASI-UMA guna pelebaran ruang Dosen Fakultas Psikologi. Dalam poin surat akhir bulan desember 2019 menerangkan bahwa pelebaran tersebut disetujui YPHS namun harus mendapatkan dukungan dari GASI-UMA. Berdasarkan surat tersebut GASI-UMA melayangkan surat pada bulan Januari 2020 kepada Rektor UMA dengan tembusan YPHAS bahwa GASI-UMA tidak mendukung Pemindahan sekretariat GASI-UMA sebelum adanya mufakat tentang letak dan sekretariat pengganti.

Langkah-langkah penyelesaian secara musyawarah atau demokratis yang dicoba oleh pengurus GASI-UMA malah diabaikan Pihak Dekanat dan Rektorat. Seharusnya untuk menjalankan proses demokrasi yang baik di kehidupan kampus, sebagai pengayom, pembimbing, pihak rektorat dan dekanat dapat melibatkan mahasiswa.

Sikap arogansi Muazzul SH, MH mencoreng dunia kampus dalam membina mahasiswa dan organisasi kemahasiswaan, sikap yang arogan tidak merupakan cerminan pola pendidikan dan tingkat kecerdasan Wakil Rektor III tersebut. Bahkan arogansi dan agresifitas yang ditunjukkan Wakil Rektor III tersebut sangat berpotensi menyebabkan trauma kepada mahasiswa dan bahkan orang tua, karena Wakil Rektor III UMA tersebut selalu mengancam memenjarakan atau melaporkan polisi mahasiswa.

Menurut keterangan Mahasiswa dalam Kepemimpinan Wakil Rektor III UMA organisasi kemahasiswaan ini telah terhenti karena otoriterisme kepemimpinan beliau. Belum setahun kepemimpinannya, beliau telah banyak menindas Kreativitas Lembaga Kemahasiswaan di UMA melalui pembatasan aktivitas organisasi atau GASI diberikan 2 jam untuk berorganisasi. Tidak hanya disitu, beliau juga menabrak aturan dalam melakukan penghancuran kantor-kantor (sekretariat) organisasi kemahasiswaan di teritori kampus dan GASI UMA merupakan salah satu diantaranya dan ini tidak sewajarnya untuk dilakukan.

Pendidikan yang menjadi salah satu instrumen terpenting dalam membangun peradaban Bangsa rupanya tidak begitu dapat mempengaruhi tindakan kesewenawangan beliau terhadap organisasi mahasiswa. Karena dalam kehidupan bernegara dikenal judicial review, sayangnya sistem tersebut tidak dikenal di UMA semenjak beliau menjabat WR 3 UMA. Mahasiswa juga merasa dalam kepemimpinan beliau adanya Abuse of power dan ini bisa menjadi citra buruk bagi UMA. (red)

Penulis: -

Baca Juga