Pompa Air Tak Berfungsi, Masyarakat Akan Laporkan Kades Pardugul ke Inspektorat

Kondisi tanaman padi milik masyarakat desa Pardugul Kecamatan Pangururan terancam gagal panen karena kekurangan air. Hal ini salah satu faktor karena tidak berfungsinya pompanisasi yang menelan biaya cukup besar. BP/Timbul Samosir

Samosir-BP: Puluhan tahun mesin Pompa Air 30 PK di Desa Pardugul, Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara tidak berfungsi, petani padi yang seyogianya bisa bertanam padi dua kali setahun, terpaksa gigit jari.

Setelah pompa air dilengkapi oleh penanaman pipa itu tidak berfungsi sejak dibangun, Pemerintah Desa kembali menganggarkan dana sebesar Rp 147 juta, untuk perbaikan mesin dan menanam pipa kembali pada tahun 2015.

Harapan petani padi tetap sirna, pompa yang diharapkan mampu menciptakan Desa Pardugul swasembada beras dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, hanya tinggal angan angan. Karena pompa air itu tetap tidak berfungsi, dengan alasan yang tidak jelas.

Tak tahan menanggung derita berkepanjangan karena ulah kades dan kroni kroninya, masyarakat bersepakat melaporkan Kepala Desa Pardugul ke Inspektorat Kabupaten Samosir. "Kita akan melaporkannya besok," sebut warga setempat, Hasahatan Sitanggang kepada wartawan, Selasa (11/2/2020) di kediamannya Buhit, Pardugul.

Menurutnya, program pengadaan mesin pompa itu awalnya direncanakan untuk meningkatkan produktivitas hasil petani padi masyarat. "Sekitar puluhan hektar yang dekat dengan Danau Toba, berpotensi menopang ekonomi warga, tapi sejak ada pompa air itu tidak berfungsi," ujarnya.

Dijelaskan Hasahatan, pompa air yang dilengkapi dengan penanaman pipa itu awalnya dikerjakan melalui PNPM Mandiri tahun 2008 lalu, dengan pengurus TPK kroni Kepala Desa.

"Namun sangat disayangkan, sejak mesin itu ada sampai sekarang tak pernah berfungsi, anehnya otak masyarakat seperti dicuci selama ini, sehingga tidak ada yang keberatan," tegasnya.

Sebagai warga yang tidak ingin masyarakat tersandera perilaku pembodohan, kata Hasahatan, dirinya siap didepan melaporkan Kepala Desa demi kebaikan masyarakat di masa mendatang. "Sehingga tidak ada lagi masyarakat yang korban, karena ketidakadilan akibat ulah oknum tak bertanggungjawab," pungkasnya lagi.

Hasahatan sangat prihatin, karena selama 12 tahun pompa air 30 PK tak pernah berfungsi, kemudian menggunakan anggaran Desa tahun 2015 sebesar Rp 143 juta tetapi tetap tak berfungsi. "Ini harus dipertanggungjawabkan dan dibuka di hadapan masyarakat," katanya serius.

Ia menambahkan, keluhan masyarakat juga akan disampaikan melalui surat kepada Pemerintah Desa dan BPD Pardugul, agar warga diundang sehingga persoalan yang telah mengakar ini semakin transparan.

Namun ketika dikonfirmasi kades yang bersangkutan terkait penyebab tidak berfungsinya pompanisasi tersebut, dia mengatakan karena rumah pompa jauh dari tepi danau dan kondisi air danau toba keadaan surut.

Terkait dana desa yang dialokasikan untuk perbaikan pompanisasi dimaksud 143 juta dan panjang pipa yang dipasang 750 m ujar Kades melalui pesan WA-nya. (BP/TS)

Penulis: -

Baca Juga