Pendidikan Sumut Tertinggal, Honor Guru Dibawah UMR

MEDAN,BP: Jika Sumut mau maju dan berkembang, kualitas pendidikan harus ditingkatkan. Karena dunia pendidikan itu merupakan sektor yang paling urgen dalam membangun Sumber Daya Manusia(SDM) yang bermartabat, profesional dan manusia seutuhnya.

"Lihat saja sekarang ini, kualitas pendidikan Sumut jauh tertinggal dibanding provinsi lainnya di Indinesia," ujar Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) DR Kaiman Turnip kepada BP.Com, Selasa(22/5/2018) ketika ketemu di ruangan lobby Sekdaprovsu.

Menurutnya, Medan Sumut merupakan kota terbesar ke 3 di Indonesia tapi sama sekali tidak.memiliki Pendidikan Lemhanas.

"Sedangkan Aceh sendiri yang tergolong jauh dengan Sumut sudah memiliki Diklat Lemhanas," ujar Kaiman Turnip.

Menurut Kaiman, tertinggalnya Sumut  di dunia pendidikan tidak dipungkiri dari kurangnya perhatian semua pihak terhadap pendidikan di daerah ini.

Seharusnya pendidikan itu menjadi prioritas utama guna menjaga keseimbangan SDM di Sumut. Di Sumut nampaknya dunia pendidikan itu seolah disepelekan.

Buktinya, kehidupan guru terutama tenaga honorer bagai terabaikan atau kurang diperhatikan baik pemerintah maupun masyarakat.

"Nasib guru honorer sangat memprihatinkan. Jasanya hanya dihargai Rp Rp 40.000/jam atau boleh dikatakan dibawah Upah Minimum Regional (UMR)," ujar Kaiman.

Berdasarkan informasi, ujar Kaiman, di Sumut saat ini sedikitnya puluhan ribu guru honorer mengajar baik di SMK, SMA atau MAN swasta maupun Negeri dengan upah Rp 40.000/jam.

Nah, jika dikalkulasi, seorang guru paling banter mampu mengajar 30 jam / bulan X Rp 40.000/jam = Rp 1.200.000/bulan. Tentu angka ini jauh dibawah UMR.

Padahal mereka ini umumnya tamatan sarjana bahkan ada yang S2. Gimanalah mereka bisa bekerja dengan tulus dengan penghasilan Rp 1.200.000/bulan.

"Mereka kan berkeluarga, tentu punya anak dan binik yang harus dibiayai.  Sungguh memprihatinkan dan nenyakitkan bukan," ujar Kaiman.

Ironisnya, ujar Kaiman menegaskan, honor tersebutpun.kabarnya mau tetsendat pembayarannya.udah nilai tak seberapa, konon pembayarannya terlambat. "Lantas mau makan apa anak dan bininya," ujarnya.

Tentu hal ini merupakan salah satu pengganjal semangat kerja untuk memacu kualitas dan profesional guru honor.

Menjawab pertanyaan, Kaiman menegaskan yang sepengetahuannya sumber honor guru swata maupun negeri selama ini ada dari dana BOS, dana komite dan APBD.

Untuk itu, ujar Kaiman, segenap elemen masyarakat khususnya pemetintah diharapkan memberikan perhatian khusus terhadap dunia pendidikan di daerah ini.

Karena itu, jika Sumut mau maju dan berkembang, silahkan belajar banyaklah ke DKI Jakarta soal kesejahteraan guru.

"Guru di DKI itu hidupnya cukup sejahtera sehingga disiplin kerjanya dapat dipacu semaksimal mungkin," tegasnya.(P2/BP).

Penulis:

Baca Juga